Perubahan Iklim, Dunia Harus Bertindak
Kini dunia bisa merespons tantangan lingkungan hidup terhadap perubahan iklim dengan biaya rendah atau harus membayar dengan harga yang lebih mahal atas keragu-raguan dan kepasifan, sebut Organisasi Kerja Sama dan Perkembangan Ekonomi, Rabu (5/3).
“Jendela kini sudah dibuka. Kita butuh kebijakan lebih lanjut guna menghindari biaya-biaya tindakan yang terlambat dilakukan selama jangka waktu lama,” sebut Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria dalam penyampaian laporannya dalam Environmental Outlook to 2030 di Oslo, kemarin.
“Kini perubahan iklim adalah tantangan yang paling penting bagi umat manusia. Kita tahu apa musuh kita yakni karbon,” ujarnya.
Pada tahun 2030, jelasnya, kerusakan lingkungan hidup yang tak terkendali bisa membuat 4 miliar penduduk (setengah populasi planet ini) kekurangan air minum.
Laporan ini dikumpulkan setiap lima tahun sekali dan memfokuskan masalah-masalah yang berbahaya seperti perubahan iklim, kebutuhan energi, kehilangan keragaman bio, transportasi, pertanian dan perikanan.
“Tanpa kebijakan yang lebih berambisi, tekanan terhadap lingkungan hidup bisa menyebabkan kerusakan dalam kurun waktu beberapa dekade berikutnya. Biaya kepasifan kita cukup tinggi, sementara tindakan yang berambisi untuk melindungi lingkungan hidup sangatlah dibutuhkan seiring dengan pertumbuhan ekonomi,” tulis laporan tersebut.
Meski organisasi ini terdiri dari 30 negara Eropa, laporan tersebut menekankan kebutuhan akan respons global terhadap tantangan lingkungan hidup. “Kita harus mengubah cara kerja perekonomian kita dan kita harus menciptakan perekonominan yang lebih hijau,” seru Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg.